Gorengan: Must Try di Jakarta!

Saya sempat kaget pas baca artikel tentang Jakarta di salah satu majalah yang saya curi-curi baca di Gramedia (dan saya lupa nama majalahnya! Nunun Syndrome!) dimana di sana disebutin bahwa gorengan merupakan salah satu hal yang harus dicoba ketika berada di Jakarta! WOW! Artikel yang memasukan gorengan sebagai makanan yang die-die-must-try itu sontak membuat saya kaget seperti ketika saya melihat berita tentang laporan penggunaan plastik oleh beberapa oknum pedagang gorengan di salah satu stasiun televisi swasta yang hobi termehek-mehek!

Namun terlepas dari polemik plastik yang dicelupkan dalam minyak mendidih agar hasil gorengan lebih crunchy, gorengan (bahasa kerennya fried stuff) ini memang sangat identik dengan Jakarta. Di manapun dan kapanpun penjual gorengan gampang banget ditemui di setiap sisi ibukota. Makanya ketika dipikir-pikir nggak heran juga sih jika akhirnya sekantong gorengan yang dengan bonus cabe rawit menjadi salah satu kudapan yang kudu dicoba di Jakarta! Hahaha… Padahal beberapa penjual gorengan di Jakarta memberi label Tempe/Tahu Sumedang ya?

Dan, ketika saya iseng-iseng googling tentang gorengan ini, saya terdampar di sebuah situs jakartaexpat.com  dan nemuin sebuah rekomendasi yang sama persisnya dengan apa yang ditulis dalam majalah yang saya baca di Gramedia itu. Saya pas baca tulisan tentang gorengan itu malah cengar-cengir sendiri! Lucu-lucu miris.

The food might not be as healthy, since only God knows how many times the vendor reused the oil to fry the food, but it is worth to try! – Jakartaexpat.com

Continue reading

8 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

Di Balik Awan Mega Mendung

Selama ini saya selalu penasaran dengan motif batik yang identik dengan Cirebon ini, yaitu motif mega mendung. Garis-garis lengkung yang dibatik sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan awan mampu membius saya untuk mengaguminya. Namun sayangnya saya sendiri kurang begitu mengerti makna dari motif mega mendung ini. Yang saya tahu selama ini bahwa motif mega mendung merupakan cerminan dari awan yang juga bisa ditemukan dalam budaya China. Selain itu pula saya selalu teringat awan kinton milik jagoan Sun Go Ku dalam serial Dragon Ball jika melihat motif batik mega mendung. Hihi. Lalu terdengar lantunan lagu: Cahaya cinta perlahan menyilaukan, Itulah mimpi kehidupan kedua, Mimpi itu dari mana datangnya…. Jawabnya ada di ujung langit. Kita kesana dengan seorang anak. Anak yang tangkas dan juga pemberani ….. Bertarunglah Dragonball dengan segala kemampuan yang ada bila kembali dari langit smoga hidup ‘kan jadi lebih baik. 

Dan, ternyata memang benar jika motif mega mendung ini sangat dekat dengan China. Dalam sejarahnya, motif mega mendung ini memang ditemukan dalam benda-benda seni yang dibawah dari China dan masuk ke Cirebon, yang saat itu merupakan salah satu pelabuhan yang ramai. Terlebih, menurut sejarah, Sultan Gunung Jati ternyata menikahi putri China bernama Ratu Ong Tien. Pernikahan itulah yang memungkinkan terjadinya akulturasi budaya, di mana pembatik Cirebon menggunakan motif mega mendung yang selama ini menghiasi benda-benda seni yang dibawa dari China, semisal keramik, piring atau kain. Penggunaan motif awan dari China inilah yang mendasari lahirnya motif batik mega mendung khas Cirebon.

Apabila melihat sejenak dalam paham Taoisme tentang awan yang mendasari lahirnya motif batik mega mendung ini merupakan pencerminan  dunia atas. Bentuk awan ini merupakan gambaran tentang dunia yang luas,  bebas, dan mempunyai makna transidental (ketuhanan).

Selain makna yang terkandung dalam garis-garis lengkung yang menggambarkan awan-gemawan, penggunaan warna dalam batik mega mendung juga mempunyai makna tersendiri. Jika melihat warna khas mega mendung yang berwarna biru, hal ini bisa dimaknai sebagai perlambang warna langit yang luas, bersahabat dan tenang serta juga melambangkan pembawa hujan yang merupakan pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan.

(Informasi ini disarikan dari Wikipedia).

Continue reading

2 Comments

Filed under Jawa Barat, Travelogue

Melihat Geliat Pariwisata Garut

*Candi Cangkuang*

Di kurun 2009 saya sempat nekat berkunjung ke Garut hanya karena bingung mau pergi ke mana pas weekend dan pikiran udah suntuk banget jika harus hidup di kamar 3×4 meter selama dua hari tanpa kasih sayang. Alhasil saya nyari angkot lalu menuju Terminal Lebak Bulus dan naik Prima Jasa menuju Garut. Saat itu saya tidak mikir banyak: ntar ngapain di sana, nginep di mana, atau kalo kesasar gimana. Namun semua ketakutan itu nggak bisa menghalangi saya untuk melihat sesuatu yang baru, meskipun kudu sendirian untuk ke sana. Terpacu untuk bisa dapet pengalaman ber-solo traveling akhirnya tekad saya membulat kayak dotnat: Garut di depan mata!

Pengalaman pertama ke Switzerland Van Java ini memberikan kenangan tersendiri meski saya hanya menghabiskan waktu di Cipanas dan Situ Cangkuang (tanpa menyeberang ke Candi Cangkuang). Garut di mata saya saat itu pastinya tampak sebagai kota yang tenang dengan alam yang memesona: lekuk-lekuk gunung nan sexy, hamparan persawahan, situ yang tenang.

Lalu, di tahun-tahun berikutnya saya menjadi punya kebiasaan untuk mengunjungi Garut setiap tahunnya. Terlebih ada kerabat baru yang dengan baik hati kadang mengundang saya dan teman-teman untuk maen ke sana. Hihi. (Padahal sebenarnya saya dan teman-teman yang niatin untuk maen bukan diundang makan ikan bakar di saung depan rumahnya Teh Ani).

*Situ Cangkuang*

Dari beberapa kali kunjungan rutin ke Garut itulah (dari 2009 sampai 2012) saya bisa melihat bagaimana geliat industri pariwisata di sana. Saat pertama kali berkunjung di tahun 2009 saya melihat bagaimana pariwisata Garut belum berkembang pesat seperti sekarang. Sayang, saya tidak bisa melihat data kunjungan wisata dari tahun 2009 hingga 2011. Dalam situs resmi Kabupaten Garut hanya terlihat data kunjungan wisata ke Garut pada periode Januari sampai Agustus 2011 dengan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 1643 orang dan wisatawan dalam negeri sebanyak 594.354 orang. Sedangkan data dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Garut, Yatie Rohayati yang saya baca di Kompas, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Garut di tahun 2011 kira-kira 1,9 kunjungan.

Terlepas dari data statistik berupa angka-angka itu, saya memang melihat sendiri bagaimana geliat pariwisata di Garut pas terakhir saya berkunjung ke sana beberapa minggu lalu. Ramainya kota Garut di akhir pekan tampak sangat jelas dari Jalan Raya yang menghubungkan Kota Garut dengan Bandung. Ketika saya menunggu bus yang akan membawa saya ke Bandung di pertigaan Cipanas jalanan tampak ramai dengan kendaran-kendaraan dengan plat nomor luar kota. Terlebih jika hari minggu kadang terdapat beberapa titik kemacetan di jalan raya utama itu.

Berdasarkan pengamatan di beberapa kunjungan terakhir ke Garut, saya bisa melihat bagaimana sektor-sektor pendukung pariwisata pun mulai berkembang. Beberapa rumah makan berdiri, kedai kopi, pusat oleh-oleh pun semakin menjamur, pusat batik Garutan mulai bermunculan,  toko-toko kulit khas Garut pun ramai, lalu industri kreatif seperti Chocodot seakan menjadi trade mark baru dari kota ini. Dan, terakhir saya melihat bagaimana miniatur dari domba Garut sudah banyak dijual sebagai salah satu oleh-oleh baru dari Garut.

Garut sebenarnya telah memiliki semua kriteria untuk menjadi pusat pariwisata baru di Jawa Barat. Apabila hanya bicara keindahan alam, Garut memiliki paket lebih lengkap jika dibandingkan dengan salah satu pusat pariwisata Jawa Barat, yakni Bandung. Kota ini nggak hanya memiliki gunung-gunung yang indah, namun juga hamparan kebun teh memikat, air terjun memesona, hamparan sawah bak permadani, bukit-bukit yang berjajar, sumber air panas alami, situ-situ yang begitu damai di pagi hari, candi, bahkan Garut memiliki apa yang tidak dimiliki Bandung, yakni pantai, termasuk pula Piramida (jika memang benar! Hahaha). Pun, sebenarnya fasilitas pendukung semacam penginapan dari kelas kere hingga bikin kere pun ada serta restoran pinggir jalan maupun pinggir resort sebenarnya sudah mumpuni. Apalagi produk-produk kerajinan khas Garut pun sudah banyak berdikari.  Continue reading

9 Comments

Filed under Jawa Barat, Travelogue

Hiruk Pikuk Pasar Kaget di Taman Kota Fatahillah

*Sandalnya, Kakak!*

Sebelumnya saya pernah menduga-duga tentang kegiatan apa yang sebenarnya terjadi di Sabtu malam sehingga menyebabkan begitu banyak ya sampah berceceran di Minggu pagi ketika saya nekat nyasarin diri sampe ke Kawasan Kota Tua padahal baru saja balik dari Bandung kurang lebih jam 4 dini hari.

Ternyata ketika saya iseng pergi ke Kawasan Kota Tua pas Sabtu sore mendekati Maghrib, ealah ternyata tanah lapang di Sekitaran Museum Fatahillah sudah berubah menjadi sebuah pasar kaget yang benar-benar bikin kaget kayak berita tentang Syahrini yang tiba-tiba mo menikah bulan Mei padahal tidak pernah ada berita jika Syahrini memesan gaun pengantin dengan ekor sepanjang Anyer Panarukan.

Sebenarnya pas tahun lalu saya maen-maen ke Kota Tua Jakarta pun sudah banyak diwarnai gerobak-gerobak pedagang, begitu pun dengan kunjungan-kunjungan pada tahun sebelumnya dimana selalu terlihat gerobak es potong tradisional yang seakan sudah menjadi trade mark pendagang di Kota Tua. Namun yang tampak sabtu sore kemarin pada saat saya ke Kawasan Kota Tua Jakarta adalah sebuah kondisi yang sangat hiruk pikuk dan semrawut. Lapak-lapaknya pedagang berbagi tempat dengan gerobak-gerobak makanan yang tidak tertata dengan rapi. Bahkan para pedagang ini sudah menyambut calon pengunjung kawasaan Kota Tua yang masuk dari gerbang di seberang Museum Bank Indonesia. Tanah lapang yang semula adalah sebuah jalan lebar bagi pengunjung yang ingin menikmati indahnya bangunan tua sudah berubah fungsi sebagai pasar!

*Trotoar pun berubah menjadi tempat parkir*

Saya memaklumi jika keberadaan para pedagang ini demi mengais rejeki bukan untuk segenggam berlian atau selusin tas Hermes asli, melainkan untuk menyambung hidup atau biaya sekolah anak, namun saya tidak setuju jika mereka asal buka lapak di tanah lapang tanpa mengindahkan kenyamanan Kawasan Kota Tua yang merupakan salah satu objek wisata di Jakarta.

Dengan berat hati akhirnya saya pun harus mengakui jika saya tidak bisa lagi menikmati Kawasan Kota Tua ini, khususnya di sekitaran Museum Fatahillah di kala sore hari. Padahal sebelumnya saya begitu suka menikmati Kawasan Kota Tua ini di waktu senja. Bahkan untuk sekedar duduk-duduk sore kayak Meneer Belanda Tajir di lantai dua Cafe Batavia pun pasti saya akan pikir-pikir dulu karena kondisi Taman Kota Fatahillah dan bekas balai kota Batavia (sekarang menjadi Museum Sejarah Jakaarta) yang sebelumnya menjadi best view kini kudu tergantikan oleh riuhnya pasar kaget yang semrawut.

 

*Pasar Kaget Taman Kota Fatahillah*

Continue reading

3 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

Indonesia dalam Camel Active Campaign Spring/Summer 2012

Pas baca-baca free magz-nya Traxx (yang tentunya gratisan-lah) ternyata saya nemuin semacam advertorial yang kece abis dan sedikit banyak udah ngangkat nama Indonesia. Tentu saja ‘iklan’ itu bukan soal heboh demo BBM atau bursa calon pengganti Pak Kumis yang katanya ahli bikin Jakarta nggak banjir, eh ternyata …. #pantauketinggianairdidepanrumah

Advertorial unik itu sebenarnya berbentuk video campaign yang digunakan sebagai salah satu bentuk media promosi dari salah satu brand yang cukup terkenal di dunia, Camel Active. Namun yang saya lihat di majalah tentu saja dalam bentuk semacam ulasan, sehingga awalnya saya hanya dapetin semacam poster gitu, mungkin salah satu capture dari video campaign-nya.

Yang saya suka adalah bagaimana brand dari Jerman ini membuat iklan yang unik dengan mengambil unsur-unsur Indonesia yang dipadukan dengan koleksi Spring/summer mereka. Dengan mengambil lokasi di Yogyakarta, Bromo, Flores hingga Jakarta terlihat banget bagaimana indahnya Indonesia. Tampak sangat internasional! Saya sangat menyukai bagaimana Indonesia tampak sangat indah dan ramah di video tersebut! Benar-benar Indonesia sangat beautiful … beautiful … beautiful… kamu cantik cantik cantik dari hatimu …. #posecibicibi

Untuk menyaksikan video campaign Camel Active bisa dilihat di SINI.

Dan, postingan ini khusus ditujukan untuk @dersagenhaftodi yang bulan ini berencana pergi ke Bromo dengan tujuan agar bisa bikin foto se-gorgeous advetorial dari Camel Active ini sebelum pergi mencari jodoh ke Aussie. #diserudukkanguru

*Sumber: dapat dari kaskus tapi kayaknya sih ngambil dari Situs Camel Active

Dan, serunya lagi jika maen ke situs resminya Camel Active bakal bisa baca semacam travelogue-nya  sehingga berasa banget road trip-nya dan dapat dilihat juga Camel Active nggak hanya sekedar bikin foto pamer baju koleksi terbaru. Bahkan di home situsnya tertulis gambaran singkat tentang Indonesia! WOW!

Indonesia, the largest island state in the world. Craters and rainforests adorn the more than 17,000 islands here. The country is rich in colours, rare plants and creatures, traditions, culture and mysticism, as well as modernity.Over 240 million people live here. Indonesia has the largest population after China, India and the USA. Its official motto is ‘Bhineka Tunggal Ika’ – unity in diversity.

10 Comments

Filed under Travelogue

Levitasi Hore di Final Axiata Cup 2012

*Ryan Agung Saputra*

Salah satu event badminton di 2012 baru saja digelar di Jakarta. Bukan Indonesia Open yang rutin digelar saban tahun, bukan pula event dua tahunan Thomas & Uber Cup, namun kejuaraan bulutangkis beregu putra teranyar yang baru pertama kali diselenggarakan. Beruntung Jakarta menjadi salah satu dari dua tempat penyelenggaraan event ini.

Kejuaraan Axiata Cup merupakan turnamen badminton beregu putra se-Asia Tenggara dengan format dua tunggal dan satu ganda. Babak penyisihan grup menggunakan sistem seperti Thomas Cup dimana masing-masing tim dalam satu grup akan bertemu untuk memperebutkan dua tempat teratas dan maju ke semi final. Di babak semi final inilah baru tampak keunikan turnamen ini, dimana terdapat sistem home and away di babak semi final. Sehingga apabila kalah di leg pertama belum tentu gagal di semi final karena bisa jadi di leg kedua mendulang kemenangan telak.

Untuk Indonesia dan Malaysia sendiri mengirimkan dua tim di turnamen ini. Dan, dua tim dari dua negara tadilah yang akhirnya mengisi empat tempat di babak semi final. Empat tim terebut adalah Indonesia Garuda, Indonesia Rajawali, Malaysia Tiger, dan Malaysia Leopard.

Mungkin karena baru penyelenggaraan pertama, menurut saya Axiata Cup tahun pertama ini kurang kerasa gaungnya. Beda sekali jika dibandingkan dengan euforia Thomas & Uber Cup yang sama-sama mengusung event kejuaraan beregu. Dan apabila dibandingkan dengan kejuaraan rutin Indonesia Open pun (meskipun kurang apple to apple) Axiata Cup I masih tampak kurang gregetnya. Apalagi absennya Lee Chong Wei karena cedera sedikit banyak menambah hambarnya turnamen ini.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya Axiata Cup ini memberikan hadiah yang cukup fantastis, yaitu senilai total USD 1.000.000! Wow… Jika dibeliin iwak peyek sego jagung bisa- bisa trio macan bisa makmur sampe tuwek, nggak perlu lagi manggung dengan kostum mini belang-belang dan rambut dengan warna shocking!

*Supporter*

Namun ya sekali lagi saya merasa kurang greget dalam penyelenggaraan, terlebih juga tim yang masuk final adalah Tim Indonesia Garuda dan Tim Indonesia Rajawali. Di satu sisi saya pasti bangga melihat dua tim Indonesia sukses menapak hingga final, namun di sisi lain finalnya akan sedikit anti klimaks karena bakal kurang ngotot maennya. Coba aja di final mempertemukan  salah satu dari Tim Indonesia dan salah satu dari Tim Malaysia pasti Tennis Indoor Senayan yang dijadiin tempat pertandingan bakal nyuguhin gregetnya! Bukan malah teriakan-teriakan ribut ala penonton dashyat yang membuat saya malas untuk liat leg kedua secara live setelah terjebak dalam keriuhan ‘perang supporter’ di leg pertama. Hahaha. Untungnya juga pertandingan ketiga antara Taufik Hidayat dan Dyonisius Hayom Rumbaka berjalan cukup seru, terutama di set kedua yang sampe mengalami beberapa kali deuce!

*Dionysius Hayom Rumbaka*

Continue reading

7 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

Minggu Pagi di Taman Kota Fatahillah

Nggak ada niatan apa-apa ketika jam 6 pagi saya sudah nyasar sampe Taman Kota Fatahillah, termasuk pula alasan kesiangan dari pulang mangkal. Hihi. Kebetulan saat itu saya baru saja balik dari Bandung di pagi buta dan kebetulan saya menggunakan jasa Trans Jakarta untuk kembali menuju rumah. Karena masih lumayan ngantuk dan tiba-tiba kepikiran iseng untuk melihat bagaimana suasana Taman Kota Fatahillah di kawasan kota tua Jakarta di waktu pagi maka saya pun nekat kriyip-kriyip menyasarkan diri untuk tidak turun di Halte Harmoni untuk melanjutkan perjalanan menuju Lebak Bulus.

Ternyata suasana Taman Kota Fatahillah sudah ramai di waktu pagi. Bila selama ini saya selalu berkunjung di waktu sore maka ada pengalaman berbeda ketika saya berkunjung di waktu pagi ketika matahari belum terlampau tinggi. Saya berjalan menyusuri paving block bersama gerak-gerik sapu lidi yang dimainkan oleh pekerja kebersihan. Melihat bagaimana sampah-sampah bertebaran di segala sudut taman. Membayangkan betapa ramainya suasana Taman Kota Fatahillah pada malam harinya. Berpikir bagaimana geliat semaraknya sudut kota tua beberapa jam sebelumnya dan melihat kisah pekerja kebersihan yang giat menciptakan kenyamanan di sisa-sisa nafas pagi hari yang masih cukup dingin.

Ya, ada sesuatu yang lain ketika saya ‘kesasar’ di minggu pagi di Taman Kota Fatahillah. Perjalanan di tempat yang sama pun mampu memberikan kenyataan yang bisa jadi tidak pernah sama ketika kali berikutnya menyambanginya.

Dan, pastinya…. udara minggu pagi di taman kota Fatahillah saat itu sesegar langit biru pagi yang memayungi taman itu! Love it!

 

 

2 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

BDG 24 JAM

Jakarta – Bandung PP (Sumber: SINI)

Kadang malas banget untuk sekedar nyari hotel di Bandung pas akhir pekan lantaran sering penuhnya daripada enggaknya. Kalo pun dapat pasti hotel-hotel ala kadarnya dengan harga yang nggak sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan atau hotel-hotel yang menjadi langganan Kakek Samhoed di jalan veteran, yang katanya sih identik dengan hotel ehem-ehem gitu, deh!

Nah, ternyata sekarang ada pilihan lain untuk liburan singkat ke Bandung dengan hemat tanpa perlu menginap! Hohoho. Kalo hanya sekedar ingin city tour, makan enak, belanja-belanji di Bandung, ngapain sih pake nginep segala? Bandung masih cukup ramai kok sampe tengah malam, apalagi malam minggu!

Apalagi saat ini ada moda transportasi 24 jam yang melayani rute Jakarta-Bandung PP! Bila selama ini kereta/bus menjadi pilihan saya yang jadwal keberangkatannya nggak cukup fleksibel, maka akhirnya saya nemuin alternatif lain untuk pulang dini hari dari Bandung dengan menggunakan travel 24 jam. Tidak banyak travel yang melayani rute Jakarta-Bandung PP seharian penuh, sehingga saya pun awalnya juga ragu-ragu ketika memutuskan untuk memilih opsi tidak menginap di Bandung. Eh, pas googling ternyata salah satu agen travel X Trans memiliki jadwal non stop 24 jam untuk rute Cihampelas – Jakarta Semanggi (Hotel Kartika Candra). Jadwal rute ini berangkat setiap 2 jam sekali dari pangkalan X Trans Cihampelas No. 57 Oncom Raos, mulai pukul 01.45 dini hari sampai dengan 23.45 malam!

Continue reading

6 Comments

Filed under Jawa Barat, Travelogue