
*Candi Cangkuang*
Di kurun 2009 saya sempat nekat berkunjung ke Garut hanya karena bingung mau pergi ke mana pas weekend dan pikiran udah suntuk banget jika harus hidup di kamar 3×4 meter selama dua hari tanpa kasih sayang. Alhasil saya nyari angkot lalu menuju Terminal Lebak Bulus dan naik Prima Jasa menuju Garut. Saat itu saya tidak mikir banyak: ntar ngapain di sana, nginep di mana, atau kalo kesasar gimana. Namun semua ketakutan itu nggak bisa menghalangi saya untuk melihat sesuatu yang baru, meskipun kudu sendirian untuk ke sana. Terpacu untuk bisa dapet pengalaman ber-solo traveling akhirnya tekad saya membulat kayak dotnat: Garut di depan mata!
Pengalaman pertama ke Switzerland Van Java ini memberikan kenangan tersendiri meski saya hanya menghabiskan waktu di Cipanas dan Situ Cangkuang (tanpa menyeberang ke Candi Cangkuang). Garut di mata saya saat itu pastinya tampak sebagai kota yang tenang dengan alam yang memesona: lekuk-lekuk gunung nan sexy, hamparan persawahan, situ yang tenang.
Lalu, di tahun-tahun berikutnya saya menjadi punya kebiasaan untuk mengunjungi Garut setiap tahunnya. Terlebih ada kerabat baru yang dengan baik hati kadang mengundang saya dan teman-teman untuk maen ke sana. Hihi. (Padahal sebenarnya saya dan teman-teman yang niatin untuk maen bukan diundang makan ikan bakar di saung depan rumahnya Teh Ani).
*Situ Cangkuang*
Dari beberapa kali kunjungan rutin ke Garut itulah (dari 2009 sampai 2012) saya bisa melihat bagaimana geliat industri pariwisata di sana. Saat pertama kali berkunjung di tahun 2009 saya melihat bagaimana pariwisata Garut belum berkembang pesat seperti sekarang. Sayang, saya tidak bisa melihat data kunjungan wisata dari tahun 2009 hingga 2011. Dalam situs resmi Kabupaten Garut hanya terlihat data kunjungan wisata ke Garut pada periode Januari sampai Agustus 2011 dengan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 1643 orang dan wisatawan dalam negeri sebanyak 594.354 orang. Sedangkan data dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Garut, Yatie Rohayati yang saya baca di Kompas, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Garut di tahun 2011 kira-kira 1,9 kunjungan.
Terlepas dari data statistik berupa angka-angka itu, saya memang melihat sendiri bagaimana geliat pariwisata di Garut pas terakhir saya berkunjung ke sana beberapa minggu lalu. Ramainya kota Garut di akhir pekan tampak sangat jelas dari Jalan Raya yang menghubungkan Kota Garut dengan Bandung. Ketika saya menunggu bus yang akan membawa saya ke Bandung di pertigaan Cipanas jalanan tampak ramai dengan kendaran-kendaraan dengan plat nomor luar kota. Terlebih jika hari minggu kadang terdapat beberapa titik kemacetan di jalan raya utama itu.
Berdasarkan pengamatan di beberapa kunjungan terakhir ke Garut, saya bisa melihat bagaimana sektor-sektor pendukung pariwisata pun mulai berkembang. Beberapa rumah makan berdiri, kedai kopi, pusat oleh-oleh pun semakin menjamur, pusat batik Garutan mulai bermunculan, toko-toko kulit khas Garut pun ramai, lalu industri kreatif seperti Chocodot seakan menjadi trade mark baru dari kota ini. Dan, terakhir saya melihat bagaimana miniatur dari domba Garut sudah banyak dijual sebagai salah satu oleh-oleh baru dari Garut.

Garut sebenarnya telah memiliki semua kriteria untuk menjadi pusat pariwisata baru di Jawa Barat. Apabila hanya bicara keindahan alam, Garut memiliki paket lebih lengkap jika dibandingkan dengan salah satu pusat pariwisata Jawa Barat, yakni Bandung. Kota ini nggak hanya memiliki gunung-gunung yang indah, namun juga hamparan kebun teh memikat, air terjun memesona, hamparan sawah bak permadani, bukit-bukit yang berjajar, sumber air panas alami, situ-situ yang begitu damai di pagi hari, candi, bahkan Garut memiliki apa yang tidak dimiliki Bandung, yakni pantai, termasuk pula Piramida (jika memang benar! Hahaha). Pun, sebenarnya fasilitas pendukung semacam penginapan dari kelas kere hingga bikin kere pun ada serta restoran pinggir jalan maupun pinggir resort sebenarnya sudah mumpuni. Apalagi produk-produk kerajinan khas Garut pun sudah banyak berdikari. Continue reading →