Semarak KostuMasa Hello Fest 8

KostuMasa merupakan istilah yang sengaja diciptakan untuk menggantikan cosplay_ yang memiliki pengertian hobi mengenakan pakaian beserta aksesori sekaligus rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, manhwa, dongeng, permainan video, penyanyi dan musisi idola, dan film kartun. Sedangkan kostumasa sendiri sebenarnya memiliki spirit yang sama dengan cosplay, hanya istilah saja yang berbeda, lebih Indonesia.

Salah satu event kostumasa tergokil tahun ini dapat dilihat di Anime Expo  yang merupakan pagelaran Hello Fest yang ke delapan. Digelar di Balai Kartini Jakarta Selatan event ini benar-benar meriah abis, baik pengunjung maupun cosplayer tumpah ruah di gedung ini. Sebagai event pop culture, Anime Expo Hello Fest 2012 ini tidak hanya menampilkan kostumasa saja, namun juga movie competition dan Pasar Hello Fest dimana pengunjung bisa menemukan barang-barang unik. Bahkan di event ini juga ada lomba desain kaos untuk salah satu sponsor utamanya! Keren.

Sebagai penikmat beberapa komik, saya cukup antusias menyambut pagelaran ini. Meskipun memang pas datang ke Balai Kartini lalu melihat kostumasa berseliweran menggunakan pakaian-pakaian yang keren, saya masih bingung, itu siapa ya? Haha! Saya hanya hafal karakter-karakter yang memang sudah saya kenal, semacam Crayon Sinchan, Mr. Bean, Yotsuba, Luffy dan beberapa karakter di One Piece. Bahkan salah satu karakter di One Piece yang bernama Boa Hancock baru saya sekalin setelah melihat caption foto milik Tac, padahal pas di Balai Kartini saya juga moto kostumasa Boa Hancock tersebut! Hahaha.

Continue reading

13 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

Bertemu dengan Anak-Anak Spesial

Setahun lalu, tepat di bulan Februari saya berkesempatan untuk melihat kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Peduli Anak Spesial dan Harry Darsono Foundation di Bentara Budaya. Lebih tepatnya, sih, saya diajak untuk nemenin liputan!

Anak Spesial. Sebutan ini baru saya dengar ketika berada di dalam acara tersebut, yang berupa  talk show, perfomances sekaligus pameran lukisan. Sebutan Anak Spesial itu ternyata ditujukan untuk anak-anak penyandang autisme. Tidak salah jika anak-anak yang saya temui selama acara berlangsung adalah anak yang spesial dan istimewa karena saya dibuat begitu takjub atas ‘aksi-aksi’ mereka. Ada anak kecil bernama Brandon yang mempunyai bakat untuk menjadi motivator sekaligus bisa membaca dalam mata yang tertutup. Brandon berhasil memukau pengunjung yang hadir di Bentara Budaya. Dengan sangat percaya diri Brandon memberikan semacam ceramah, yang jika saya yang melakukannya pasti nggak sebagus yang Brandon lakukan. Saya sudah keburu pipis di celana duluan, deh!

“Apa teman-teman pernah membayangkan apa jadinya kalau alam semesta dan semua yang ada di dalamnya hanya berwarna merah? Tentu tidak indah. Pelangi saja punya banyak warna, musik punya banyak nada, jari-jari kita pun tidak sama. Kami juga berbeda, tetapi kami punya banyak bakat.” ~ Brandon 

Brandon hanyalah salah satu contoh anak penyandang autisme, yang selama ini sering dipandang sebagai anak yang nakal, bodoh, bahkan cacat. Terlebih penggunaan kata ‘autis’ dalam keseharian oleh kebanyakan masyarakat umum yang cenderung menyakitkan.

Di acara ini, tidak hanya Brandon yang menampilkan bakatnya. Banyak anak spesial lainnya yang tidak kalah memukau bagi saya. Ada yang memiliki bakat musik. Ada yang memiliki bakat menggambar. Ada pula yang memiliki bakat menari. Anak Spesial yang memiliki bakat menari itu merupakan tamu yang diundang khusus dari Filipina, lho! Sekali lagi saya benar-benar terpukau dengan bakat-bakat spesial dari anak-anak penyandang autisme yang sebelumnya belum pernah saya lihat. Continue reading

4 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

Objek Wisata Klaten

*Candi Plaosan*

Ketika saya melakukan aktivitas blogwalking dan nyangkut di blog milik Pak Nono dan membaca postingan tentang Obyek dan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Klaten Bersinar, saya sempat diam sesaat melihat beberapa saat. Ternyata banyak tempat di kota kelahiran saya yang belum sempat dijelajahi. Ke mana aja kamu selama ini? *suara ghaib langsung koor panjang*

Terkadang tinggal sekian lama di suatu tempat membuat seseorang kurang peka, termasuk dengan saya sewaktu tinggal di Klaten dari lahir sampai SMA. Selama masa itu saya hanya beberapa kali blusukan mencari tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Faktor passion yang belum ketemu mungkin membuat saya tidak begitu tertarik dengan aktivitas berupa traveling, menulis dan fotografi.

Hingga akhirnya ketika saya mulai tertarik dengan kegiatan tersebut, saya seakan meraba-raba kota kelahiran saya sendiri. Begitupun ketika saya ditanya Ayos Purwoaji dari HiFatLoBrain untuk menyebutkan lima hal yang ‘Klaten Banget’. Saat itu pun saya juga meraba-raba banget untuk menyebutkan segala sesuatu yang sangat Klaten banget.

Andai saat itu saya sudah baca blog Pak Nono, pasti saya lancar nyebutin lima hal yang sangat Klaten banget selancar Syahrini ngucap ‘Alhamdulillah Ya Sesuatu’ atau Ayu Ting Ting bilang ‘Sik Asiik!’.  Hihihi!

Sesuai dengan informasi yang diperoleh dari blog Pak Nono tersebut, ternyata terdapat banyak sekali obyek dan daya tarik wisata di Klaten. Ada delapan kelompok obyek dan daya tarik yang disajikan dan tiap kelompok memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi! Wow… Sesuatu! Mari kita lihat!

1.  Objek dan Daya Tarik Wisata Alam

  • Deles Indah
  • Sendang Kali Reno ( Deles Kemalang )
  • Sendang Tretes ( Ngreden Wonosari)
  • Sendang Nglebak (Desa Krakitan Kecamatan Bayat)
  • Umbul Buto ( Kedungan Pedan )
  • Rowo Jombor ( jimbung )
  • Sendang Bulus Jimbung
  • Taman Rekreasi anak anak di Bukit Sidoguro
  • Gua Kendil dan Gua Payung ( Krakitan Bayat )
  • Bukit Petung ( Sidorejo Kemalang)
  • Umbul Gedaren ( Kel jatinom Kec jatinom )
  • Gua Suran ( Kel jatinom Kec jatinom )
  • Pemandian Lumban Tirto
  • Pemandian Jolotundo
  • Pemandian ponggok
  • Umbul Tirto Mulyono dan Tirto Mulyani ( Pluneng Kebonarum )
  • Sendang Klampeyan
  • Sendang Gotan
  • Sendang Riyo Manggolo
  • Sendang Maerokoco
  • Sendang Sinongko ( Pokak Ceper )
  • Sendang Belik gatak ( Jimus Polanharjo )
  • Umbul Tirtomoyo (Ds. Kedungan Kec. Pedan)
  • Gunung Watu Prahu (Dk. Girisono Ds. Gunung Gajah Kec. Bayat)
  • Taman Bambu Cendani (Ds. Sidorejo Kec. Kemalang)
  • Goa Jepang (Desa Sidorejo Kecamatan Kemalang)
  • Goa Jetis (Kelurahan Jatinom Kec. Jatinom)
  • Umbul Susuhan (Desa Manjungan Kec. Ngawen)
  • Umbul Her Pancuran Sidomulyo (Ds. Soropaten Kec. Karanganom

Dari obyek dan daya tarik wisata alam di Klaten ini saya hanya pernah beberapa kali mengunjunginya, antara lain Rowo Jombor, Pemandian Ponggok, Pemandian Jolotundo, Umbul Susuhan, Umbel Pluneng yang ternyata saya baru tahu kalau bernama Umbul Tirtomulyono untuk laki-laki dan Umbul Tirtomulyono untuk perempuan, serta Taman Rekreasi Bukit Sidoguro yang ternyata  adalah bukit yang berada di dekat Rowo Jombor itu! *baru tahu* Continue reading

4 Comments

Filed under Jawa Tengah, Travelogue

Gurihnya Tahu Lamping Kopeci Kuningan

Kunjungan pertama ke Kuningan beberapa tahun silam, saya belum mengenal salah satu oleh-oleh khas ini. Tahu Kopeci ini baru saya dengar namanya ketika ketika kunjungan kali kedua_yang di-guide langsung teman-teman dari Cirebon. Namanya yang unik membuat saya kepikiran bagaimana bentuk dari tahu ini. Jangan-jangan tahunya make peci ya? Haha!

Tahu Kopeci atau Tahu Lamping ini bisa di temukan di sekitar Jalan Veteran Jagabaya Kuningan. Di sepanjang jalan ini kedai-kedai tahu ‘mangkal manis’ di sisi jalan. Salah satu kedai tahu yang rame banget dijejali pengunjung adalah Kedai Tahu Kopeci_tempat dimana saya akhirnya berkenalan dengan tahu gurih yang dalamnya padat ini. Continue reading

8 Comments

Filed under Jawa Barat, Travelogue

Mencicipi Sego Ireng

Sego Ireng merupakan salah satu bentuk olahan lain dari nasi putih. Memiliki warna hitam sesuai namanya (ireng dalam bahasa jawa berarti hitam) Sego Ireng menawarkan cita rasa yang berbeda dari sekedar nasi biasa. Apalagi jika seporsi Sego Ireng ini ditambah dengan pelengkapnya, seperti suwiran daging ayam, irisan telur dadar, serundeng, taburan bawang goreng hingga potongan cabe, tentu saja rasanya akan menjadi istimewa!

Warna hitam dari Sego Ireng ini merupakan warna dari biji kluwek, yang juga digunakan sebagai bumbu dalam memasak Rawon yang juga memiliki warna kehitaman di kaldunya. Biji Kluwek juga digunakan sebagai bumbu untuk sup konro.

Satu porsi Sego Ireng yang disajikan dengan bungkusan daun pisang memang tampak mini, namun jangan salah ukuran yang kecil itu sudah cukup mengenyangkan buat sarapan. Saya sudah dua kali mencoba sarapan dengan menggunakan Sego Ireng ini. Dan, rasanya memang maknyos abis! Apalagi jika ditemani dengan secangkir teh hangat dengan gula batu. Hmmm…. Sempurna!

5 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue

Bangkok and The Night and The Journey

Di akhir bulan Januari tiga tahun yang lalu saya merasakan sebuah perasaan yang membuncah lantaran saya merasa mendadak menjadi seseorang berbeda. Bukan mendadak memakai kostum ala kerajaan lalu naik elang, namun dengan berbekal ransel saya menjajaki sebuah pengalaman baru di tempat yang bahkan nggak pernah terduga sebelumnya. Saat itu saya tiba-tiba saja sudah mendarat di Suvarnabhumi, Bangkok!

Nekat! Hanya perlu satu kata itu untuk mengawali segalanya. Hingga kini saya menikmati setiap kaki melangkah, sekedar jalan-jalan di dalam kota atau hingga ke luar kota. Menengok sejenak kehidupan di tempat lain yang bisa membuat saya belajar tentang apa saja.

Kali ini untuk sekedar bernostalgia dengan perjalanan saya di Negeri Gajah Putih itu saya ingin re-posting beberapa foto kota Bangkok di malam hari yang sebelumnya telah di-publish di multiply. Dan, memang rencana untuk memindahkan postingan dari multiply ke blog ini memang sudah menjadi keinginan saya sejak awal bulan.

Menikmati kota Bangkok di malam hari dalam kondisi yang normal (nggak pas banjir atau kerusuhan) cukup mengasyikan, bahkan untuk orang yang baru pertama kali menyambanginya. Ketersediaan akses transportasi sampai tengah malam, kemudahan informasi, tempat-tempat yang menarik telah membuat banyak orang tertarik untuk jalan-jalan malam di Bangkok. Selain beberapa mal, tempat makan, cafe, taman kota, pasar kaget hingga bazzar di Suan Lum Night Bazzar menjadi pilihan untuk menghabiskan malam.

Sebagai salah satu kota besar tujuan wisata, Bangkok tampaknya siap menyambut serbuan turis. Tawaran penginapan pun tersedia sesuai kantong backpacker maupun koper. Satu hal yang saya rasakan ketika berkunjung ke sini adalah saya merasa nyaman, meskipun Bangkok juga  macet dan  kadang tampak semrawut. Sederhananya, sebenarnya rasa nyaman itu lahir dari rasa aman ketika saya menikmati malamnya. Bahkan saya selalu menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki  untuk mengunjungi tempat-tempat di Bangkok, namun entah kenapa saya tetap merasa bahwa semua itu sangat aman. Bisa jadi alasannnya adalah saya tidak tahu sisi kriminalitas di kota ini, sehingga ketidaktahuan itulah yang akhirnya membuat saya berani untuk menjelajah. Hal yang bisa jadi berbeda ketika saya harus melakukan perjalanan malam hari di kota sendiri dengan menggunakan kendaraan umum. Mungkin jika keadaanya seperti itu, saya akan memilih menggunakan taksi agar lebih aman. Ya, saya mungkin hanya parno ketika setiap hari disuguhi berita tentang kriminalitas yang terjadi di sini, yang membuat saya ketakutan di kota sendiri.

Kembali lagi ke Bangkok.  Dan, lantas inilah beberapa foto malam hari di Bangkok yang iseng banget di-edit dengan gaya ala-semau-gue-sendiri, dimana saya sendiri merasa suka dengan foto-foto asal jepret dengan kamera saku ala kadarnya.

*Bus Melintas di Depan MBK Mall*

*Bandara Suvarnabhumi*

*Hostel Suk 11* Continue reading

9 Comments

Filed under Thailand, Travelogue

Selimut Debu, Menyibak Misteri Afghanistan

Salah. Seharusnya buku Selimut Debu karya Agustinus Wibowo ini sudah saya baca sejak dulu ketika desain sampul bukunya masih bergambar kuda-kuda yang ‘berselimutkan’ debu dalam sebuah pertandingan buzkashi.

Sebagai buku pertama dari penulis kelahiran Lumajang ini seharusnya dibaca lebih dulu, namun kenyataanya malah saya baca setelah selesai membaca buku keduanya, yaitu Garis Batas, yang tentu saja sangat memikat.

Dan, berangkat dari ‘sihir’ Garis Batas itulah akhirnya buku Selimut Debu yang sudah berganti desain sampul ini saya baca dan menyisakan sebuah penyesalan: mengapa tidak saya baca dari dulu, ya?

Lebih dari sekedar catatan perjalanan di negeri perang Afghanistan yang ditawarkan oleh buku Selimut Debu. Sebagai penulis, Agustinus Wibowo tidak hanya membawa hari-harinya dalam sebuah bentuk petualangan, namun juga perenungan. Kisah demi kisah seperti ditulis dari dasar hati yang dalam, dimana Agustinus Wibowo tidak hanya menggambarkan suasana kehidupan sehari-hari masyarakat Afghanistan, namun juga menyuarakan hati mereka.

Selain itu, dengan membaca Selimut Debu saya berhasil menyibak misteri dari Negeri Ranjau Afghanistan. Selama ini berita tentang Afghanistan lebih condong mengabarkan perang, taliban, bom bunuh diri, hingga teroris dimana berita-berita tersebut cukup mampu membuat memberi satu sudut pandang bagi Afghanistan, yaitu negeri perang. Di buku Selimut Debu banyak kisah lain selain perang. Agustinus Wibowo menceritakan seluruh detail perjalanannya selama di Afghanistan, pemikiran-pemikirannya sekaligus pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat setempat! Termasuk pula cerita tentang imbas perang bertahun-tahun yang melanda Afghanistan.

Seperti yang sudah saya bilang, buku Selimut Debu lebih dari sekedar catatan perjalanan!

Dan, hanya dengan membaca saja saya kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh Agustinus Wibowo yang berkeliling negeri yang sering dijejerkan dengan serangan bom bunuh diri ini. Apalagi perjalanan tersebut dilakukan seorang diri di sana. Selain itu perjalanan ini bukan sekedar perjalanan biasa. Saya mengamini apa yang ditulis Maggie Tiojakin di kata pengantar buku ini yang menganugerahi Agustinus Wibowo sebagai seorang explorer bukan traveler saja, dimana Agustinus Wibowo tidak hanya membawa mata namun juga hati, sehingga dia bisa merasa kemirisan dan sisi kemanusiaan lainnya. Continue reading

2 Comments

Filed under Review Buku

Rupa Belanja Rupa Kota

Rupa Belanja Rupa Kota merupakan pameran seni rupa yang sedang berlangsung di Galeri Salihara Pasar Minggu sejak tanggal 14 Januari sampai dengan 31 Januari 2012. Menurut saya yang buta sama sekali seni, pameran ini cukup unik karena berkaitan dengan dua hal, yaitu kota dengan segala atributnya, seperti karakteristik masyarakat, kegiatan konsumsinya, life style, masyarakat urban, termasuk produk dan brand yang hadir meramaikan suasana kotayang digabungkan dengan unsur seni di mata Wiyoga “Yoga” Muhardanto, Irwan “Iwang” Ahmet dan Indieguerillas (terdiri dari Dyatmiko “Miko Bawono dan Santi Ariestyowanti).  Hasilnya adalah pameran seni rupa yang bertitel Rupa Belanja Rupa Kota yang memikat.

Minim dengan pengetahuan seni, untungnya saya masih menikmati pameran ini. Bahkan sesekali saya tergelitik sendiri ketika melihat satu per satu karya yang dipamerkan. Unsur kreativitas dan keunikan yang diusung membuat saya takjub lantaran beberapa karya yang ditampilkan memang dekat sekali dengan kehidupan masyarakat perkotaan, seperti karya berjudul Kipas Penglaris yang telah melekat sekali di kehidupan hampir setiap pasar di Indonesia. Begitu pula dengan karya berjudul Payung Bulan Ini yang terinspirasi dari keberadaan ojek payung. Sama halnya dengan perfomance art yang sengaja dibuat gara-gara gandrungnya masyarakat kota dengan mobile messenger yang telah menciptakan jamaah baru, yaitu ‘Jamaah Mendunduk Indonesia’.

Continue reading

2 Comments

Filed under DKI Jakarta, Travelogue