Baru kali ini saya harus bersyukur dengan kendala cuaca buruk!
Sejak pagi memang awan sudah berarak menghitam di atas langit Wisma Apung Karimun Jawa tempat saya dan teman-teman setrip menginap. Awalnya kami akan melakukan trip keliling pulau lagi dengan tujuan Pulau Tengah dkk. Namun menurut ‘penerawangan’ dari awak kapal yang sebelumnya kami sewa untuk keliling pulau sehari sebelumnya mengatakan bahwa cuaca sedang kurang bersahabat. Pagi itu selain awan mendung angin juga cukup kencang. Alhasil, tanpa perlu debat kusir maka diputuskan untuk membuat plan B dalam tempo secepat-cepatnya, yakni keliling Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan.
*Pak Mahmud dengan Carry-nya*
Karimun Jawa memang merupakan nama besar bagi gugus pulau di Kepulauan Karimun Jawa, namun di antara gugus pulau tersebut memang terdapat satu pulau besar bernama Pulau Karimun Jawa, kemudian terdapat pula Pulau Kemujan yang bisa dilalui tanpa berlayar karena terdapat jembatan penghubung di atas sebuah sungai yang tidak terlalu lebar yang memisahkan Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan.
Bagi saya pribadi, pengalaman berkeliling Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan telah memberikan pengalaman yang sedikit berbeda. Jika selama ini saya hanya mengenal traveling ke Karimun Jawa identik dengan wisata bahari (islands hoping hingga snorkeling) maka dengan perjalanan keliling Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan ini saya jadi lebih mengenal potensi lain dari Kepulauan Karimun Jawa.
*Keseharian di Karimun*
Di dua pulau tersebut, Karimun Jawa dan Kemujan, saya bisa melihat bagaimana kehidupan penduduk lokal dengan lebih dekat karena memang dua pulau ini merupakan dua dari sedikit pulau berpenghuni di Kepulauan Karimun Jawa. Berkeliling pulau menggunakan mobil sewaan juga membuat saya sedikit mengenal kondisi alam Karimun Jawa. Jika sebelumnya saya menganggap semua kebutuhan pokok didatangkan dari Jawa maka ternyata saya salah. Tidak sepenuhnya kebutuhan pokok, seperti beras didatangkan dari Pulau Jawa. Di Pulau Karimun Jawa ternyata ada sawah, lho!
*Masjid di Karimun*
*Di Sekitar Alun-Alun Karimun*
Selain mengenal keseharian penduduk lokal, saya pun bisa tahu bahwa penduduk nggak semuanya Suku Jawa. Dari perjalanan keliling Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan saya menjadi tahu jika ada Suku Bugis yang tinggal di sana, begitu pula dengan Suku Madura. Keberadaan Suku Bugis ini dikenali dengan bangunan rumah panggung yang berada di dekat Pelabuhan Perintis di Pulau Kemujan.
*Kampung Bugis, Sungai Pembatas Pulau, dan Petanu Rumput Laut*
*Dermaga Perintis Kemujan*
Dan, dari trip dadakan gara-gara cuaca buruk ini pulalah yang membuka mata saya untuk melihat kembali ke sejarah asal usul Karimun Jawa lewat cerita rakyat yang berkembang di sana. Asal usul Karimun Jawa sewaktu saya dan teman-teman diantarkan ke Makam Sunan Nyamplungan yang berada di sebuah bukit. Sunan Nyamplungan (Amir Hasan) ini merupakan putra Sunan Muria yang diutus sang ayah untuk pergi ke sebuah pulau yang nampak “kremun-kremun” jika dilihat dari Gunung Muria demi memperdalam ilmu agama. Dari istilah “kremun-kremun” itulah tercipta nama Karimun Jawa.
*Makan Sunan Nyamplungan*
Ternyata memang banyak hal menarik yang bisa ditemui di Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan. Tidak ada rasa sesal sekalipun ketika sebelumnya saya gagal keliling pulau lantaran cuaca kurang bersahabat. Perjalanan darat berkeliling dua pulau utama di Kepulauan Karimun Jawa ini memberikan pengalaman yang berbeda.
*Bandara Dewa Daru*
Saya pun akhirnya mengerti bahwa selalu ada hal menarik yang tak terduga selama melakukan perjalanan. Seperti halnya perjalanan keliling Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan. Termasuk di dalamnya saya juga menjadi tahu jika Pulau Kemujan memiliki sebuah bandara bernama Bandara Dewa Daru yang bisa didarati pesawat jenis CASSA 212. Nama Dewa Daru sendiri merupakan nama tumbuhan khas dari Taman Nasional Karimun Jawa.
*Legon Bajak*
*Pantai di Perkampungan Nelayan*
Dan, yang paling serunya lagi, berkeliling di Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan juga masih bisa berkunjung ke pantai-pantai yang indah! Tidak perlu ke private beach yang dimiliki resort-resort yang berada di Pulau Karimun Jawa juga masih banyak pantai-pantai indah, semisal Pantai di sekitar Legon Bajak atau Pantai Tanjung Gelam yang ternyata juga bisa dituju melalui jalur darat dengan sedikit trekking menembus hutan. Pengalaman tak terlupakan, deh!
*Private Beach Resort Palem*
Data Perjalanan Keliling Pulau Karimun Jawa dan Pulau Kemujan:
- Waktu Trip: Oktober 2009
- Transportasi: Sewa Carry milik Pak Mahmud (CP: Wisma Apung)
- Points of Interest: Kampung Bugis, Makam Sunan Nyamplung, Legon Bajak, Alun-Alun Karimun, beberapa pantai milik resort, Pantai Tanjung Gelam, Bandara Dewa Daru, Dermaga Perintis Pulau Kemujan, dan jangan lupa makan di Warung Bu Ester.
Related posts:



















xixixi aku pikir kamu typo pas nulis “dewadaru” soalnya aku taunya cuman tanaman “dewandaru” trus hasil googling ternyata beda tanaman :p
Baru tahu kalo sejarahnya Karimun Jawa seperti itu. TFS Mas..
@Ari: bukan sejarah sih lebih ke legenda, asal usul, ato cerita rakyat *cmiiw
@Gerandis: dulu aku juga ngiranya dewandaru, ternyata dewa daru
weee, cakep pulau karimun jawa, kapan saya bisa punya waktu maen kesini T_T
@Fahmi: kalo ke karimun kudu cuti, sih, kapalnya kayaknya nggak tiap hari ada, kecuali ya charter pesawat, hihiihi