Tidak ada alasan lain ketika saya memutuskan untuk berkunjung di Museum Taman Prasasti lepas pukul tiga sore kecuali iseng semata. Tanpa berpikir jika waktu berkunjung bukan hanya sudah mepet namun bisa jadi udah tutup! Saat itu saya niatin saja menuju Jalan Tanah Abang I dengan ikhlas (dimana sebelumnya saya nyasar sampe Cideng dan malah nge-wifi di KFC untuk download e magz Ekspedisi Cincin Api).
Saya benar-benar tidak memiliki alasan khusus pergi ke museum yang semula adalah bekas pemakaman umum yang bernama Kebon Jahe Kober, termasuk pula alasan untuk membuktikan kebenaran sebuah dugaan yang menyebutkan bahwa terdapat makam di Museum Taman Prasasti ini yang tidak bernama namun memiliki simbol Grand Master Freemasonry ataupun sengaja untuk menemukan simbol-simbol yang identik dari ‘kelompok’ tertentu. Tidak. Saya tidak semaniak itu dalam mengikuti teori konspirasi. Haha!
Kunjungan ke Museum Taman Prasasti benar-benar iseng semata. Kebetulan saya benar-benar belum pernah melihat secara langsung nisan-nisan kuno maupun patung-patung malaikat yang menjadi koleksi museum ini. Saking isengnya, saya sampai melupakan satu gadget penting, yakni kamera!
Sialnya lagi, saya sampai di museum ketika waktu sudah nunjukin lebih dari jam tiga sore. Benar saja museum sudah tutup! #nasib
Namun untungnya penjaga museum berbaik hati memperbolehkan masuk karena masih banyak pengunjung yang berada di museum. Ternyata ada sekelompok fotografer yang melakukan pemotretan dengan model-model cuantik! Saat itu saya langsung bersyukur nggak bawa SLR. Minder, euy! Kalah moncongnya. Hihi. *motret dengan kamera seadaanya lalu di edit di be fungky trus upload di instagram saja* ;p
Karena waktu sudah cukup sore saya tidak bisa menjelajah dari satu nisan ke nisan yang lain. Bahkan saya tidak ngabsen nama-nama yang terukir di atas nisan. Bahkan, saya juga tidak melihat koleksi peti jenasah dari proklamator RI yang tersimpan dalam salah satu bangunan rumah.
Sore itu, saya hanya berkeliling di seputaran taman yang dipenuhi dengan nisan-nisan dan patung-patung serta rindangnya pepohonan. Saya menikmati apa yang ada di depan mata. Dan, tidak mencari tahu tentang hal-hal lain. Mungkin lain waktu, saya akan menjelajah lebih dalam. Melihat sejarah dari Museum Taman Prasasti ini. Melihat dengan seksama setiap tulisan di atas nisan. Bisa jadi pula menungkap simbol demi simbol yang tersembunyi ada di sana.
Keberadaan Museum Taman Prasasti ini memang bisa dilihat dari segala sisi, baik sebagai museum itu sebagai salah satu cagar budaya, tempat di mana bisa menikmati peninggalan kuno sekaligus seni, baik seni pahat dalam bentuk nisan/patung maupun potongan kalimat/sajak yang tertulis di atas nisan. Selain itu ada pula yang memaknai kunjungan ke Museum Taman Prasasti sebagai wisata rohani. Dan, bisa jadi pula Museum Taman Prasasti ini merupakan tempat untuk memecahkan sebuah misteri lewat simbol-simbol yang berserakan di sana. Namun yang paling simpel adalah nikmati kerindangan museum ini. Duduk-duduk di dalam Museum Taman Prasasti sanggup memberikan kesejukan di tengah kota Jakarta.
Related posts:





aku pernah ke situ juga looooh, tapi aku pikir taman prasasti ini luas bgt karna biasa buat syuting, ternyata cuman segitu doang :p
@Gerandis: iyo ternyata g terlalu luas, sekali dua kali ngesotan #eeaa
Pernah ke Museum Prasasti ini kurleb di jam yang sama, emang udah tutup tapi penjaganya bisa di “speak-speak” jadi kita boleh masuk. Rada kaget juga ternyata memang tidak seluas yang dibayangkan, dan sekalipun belum terlalu sore tapi aura singupnya terasa banget. However, still great spot for photography
@Duopanda: iyooo singup banget…. jadi rada takut jg berlama2..hahaha
kalo ada waktu kesana lagi, sempetin masuk ke ruang yang ada peti mati Sukarno & Hatta, Par. dari keseluruhan tempat di Museum Taman Prasasti, spot itulah yang paling membuat saya merinding disko. padahal terang benderang, seluruh jendela besar pun terbuka ..
hiiiii ..
@Zou: huwoooo…… kapan2 nyobca ah, thx infone yow