Tepos! Ke Bogor Pakai Motor

Sebenarnya apa yang saya lakuin pas weekend kemarin belum ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman orang lain yang pernah melakukan motopacking, halah! maksudnya backpacker-an make motor. Salah dua pelaku ngetrip make motor yang keren abis adalah Farid Gaban dan Ahmad Yunus yang melakukan perjalanan keliling Indonesia. Catatan perjalanan mereka bisa dibaca dalam buku Meraba Indonesia, yang melihat Indonesia dengan lebih dekat lebih nyata!

Jika ekspedisi keliling Indonesia dengan motor berasa kayak mission impossible bagi saya, maka saya nggak mau terlampau muluk-muluk untuk pilih rute keliling pakai motor setelah sekian lama tidak mengendarai motor jarak jauh. Awalnya berpikir untuk mengunjungi Ujung Genteng gara-gara baca salah satu thread di Kaskus yang bercerita tentang pengalaman seru motoran dari Bandung ke Pelabuhan Ratu lanjut ke Ujung Genteng, tentu saja make motor dan dilakuin sendirian pula. GILA! Jarak yang ditempuh itu untuk sekitar 250 Km, lho! Cukuplah untuk bikin pantat makin tepos. Hihi.

Dengan bimbang, mikir-mikir hingga cenat-cenut-kentat-kentut sekaligus mengumpulkan keberanian (dan mencoret rencana ‘melaut’ hingga ke Pulau Harapan karena budget cekak), akhirnya saya putusnya untuk motoran ke Bogor sekalian ngeliat jejak perjalanan Syahrini di kota ini! KRIK!

Berdua bareng saudara, akhirnya saya resmi nunggangin kuda dengan memakai jubah putih motor menuju kota hujan itu. Modal rute yang saya dapatkan di Kaskus dan maps  kami memantapkan hati memulai perjalanan (baca: ikhlas untuk kesasar sana-sini demi bisa sampai di Bogor).

Rute Jakarta Bogor (Puncak) hasil ngaskus:

PIM – Lebak Bulus – Ciputat – Gaplek – Sawangan – Parung – Jampang – Kemang – Salabenda – Kayu Manis – Jalan Baru – Plaza Jambu Dua – Jalan Pajajaran – Plaza Ekalokasari – Tajur – Ciawi -Cisarua – Puncak

Namun karena saya berangkat dari Pondok Aren tentu saja saya langsung bablas menuju Ciputat. Dari hasil maps yang dibuka sebelum berangkat, saya coba mencari petunjuk jalan dari Pondok Aren ke Bogor. EALAH, Google ngasih rute  jalan tol! Haha.

Akhirnya saya mengulangi kembali pencarian dengan mengetik Pondok Aren ke Parung baru Parung ke Bogor biar lebih gampang. Tampak dari hasil maps jarak yang bakal ditempuh sekitar 44,7 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 62 menit, lebih lama sedikit dibandingkan dengan prediksi waktu tempuh dengan  jalan tol.

Melihat rute Jakarta – Bogor via Ciputat lalu Parung yang saya dapatkan dari kaskus dan maps, sepertinya memang tidak terlalu sulit. Apalagi jalur tersebut hanya sekian kilo meter dari ibukota negara pasti kondisi jalan cukup baik dan banyak petunjuk jalan.  Untuk apa ketakutan sendiri sebelum mencobanya, kan?

Sebenarnya yang saya takutkan bukanlah kondisi medan atau kesasarnya. Selama ini saya menikmati sebuah proses menemukan, meskipun kudu melalui fase kesasar sana-sini. Saya lebih tepatnya takut untuk satu jalan yang kudu saya lalui dimana jalan itu sudah saya stempel sebagai jalan keramat! Jalan itu bernama ‘jalan kenangan’! EEAA.

Untuk menanggulangi hal yang tidak-tidak, saya memilih duduk di boncengan terlebih dahulu. Perjalanan awal akan melalui ‘jalan kenangan’ tersebut! Hihi. Berangkat cukup siang dari Pondok Aren, kami mulai menyusuri rute yang didapat via kaskus dengan kecepatan santai sambil menikmati apa saja yang di depan mata. Rute menuju Bogor melalui Parung memang belum pernah kami lalui sehingga pengalaman pertama selalu memberikan euforia tersendiri. Sebelumnya kami tidak pernah mengharapkan pemandangan istimewa selama perjalanan dari Pondok Aren ke Bogor sehingga pas di perjalanan pun kami benar-benar menikmati apa yang ada dengan perasaan tulus. Kami menikmatinya. Menemukan hal-hal baru di depan mata.

Meksipun rute yang didapat tampak begitu banyak nama tempat yang kudu dilalui namun ternyata untuk menuju Bogor via Parung ternyata gampang banget! Nggak bakalan kesasar, deh. Patokan yang paling sederhana adalah ambil jalan lurus, jangan pernah belok kanan/kiri pas ada perempatan/pertigaan selepas perempatan McD di Gaplek. Ikutin saja jalannya pasti tahu-tahu sudah sampe di Kota Bogor yang ditandai dengan pintu tol lingkar luar bogor. Jika masih ragu dan bingung, patokan berikutnya adalah angkot! Dari Ciputat patokannya adalah angkot biru jurusan Ciputat/Lebak Bulus Parung, selepas itu bisa pula ngikutin Bus Putih tanggung jurusan Tangerang – Parung/Bogor. Kalo masih kesasar juga, ya ampun, mendingan naik kereta aja, deh. :p

Kondisi jalanan Pondok Aren – Bogor sebenarnya merupakan jalan antar kota antar provinsi, namun lalu lintas tidak terlampau padat. Jarang sekali terlihat truk melintas. Mobil pribadi pun tidak sebanyak yang saya duga. Sedangkan bus yang mengambil rute ini pun hanya bus tanggung sehingga motoran di jalur ini menjadi cukup nyaman. Bisa ngebut jika memang mau benjut.  Kemacetan juga masih dalam tahap yang bisa dimaklumin tanpa perlu membunyikan klakson kenceng-kenceng padahal udah tahu jalanan macet parah.  Kemacetan hanya terjadi di Parung karena disana terdapat terminal sekaligus pusat perbelanjaan sehingga angkot gemar ngetem pamer paha.

Sebelum memasuki Kota Bogor, kami melintasi Kabupaten Bogor terlebih dahulu untuk beberapa saat. Sempat was-was sedikit ketika akan masuk kota Bogor di sekitar Warung Jambu karena berdasarkan Google Maps saya melihat bakal bertemu dengan jalan tol. Nggak seru kan kalo kebablasan (lagi) masuk tol kayak pengalaman terdahulu saya motoran dari Pondok Aren ke Cileungsi-yang dengan pedenya masuk tol di samping Cibubur Junction!

Selepas belok kanan di Warung Jambu (kalo lurus bakal kena jebakan batman masuk tol!) ternyata saya tinggal ngesot lurus saja sudah bisa menghirup udara Bogor bagian Jalan Pajajaran! Ustadz Maulana pun langsung berteriak, “‘AL….HAMDULILLAH!! JAMA…AHHHH!”

Beberapa kali ke Bogor membuat saya familiar dengan Jalan Pajajaran dari MP (Makaroni Panggang) sampai Baranangsiang lanjut hingga Plaza Ekalokasari (Elos). Daerah itu merupakan tempat mangkal favorit saya dan teman-teman ketika mendapat undangan dari Ratu Kebun Raya, Ibu Ndah Nununwati.

Merasa kurang tertantang dengan pencapaian hingga Kota Bogor tanpa ngos-ngosan akhirnya kami memutuskan untuk langsung  melanjutkan laju motor ke arah Tajur hingga perempatan yang ada pintu tolnya. Kami tidak memiliki rencana apapun selama bikepacking, termasuk mo singgah di mana, bahkan penginapan pun belum didapatkan.

Matahari Bogor saat itu lagi sale. Panasnya terik banget padahal Bogor ngakunya suka hujan. Alhasil kombinasi sweater dan jaket pun membuat gerah. Segera pemandangan kemacetan di perempatan  sempat bikin labil untuk nentuin arah, antara Puncak, Sukabumi atau balik Bogor! Fiuhh… #kebiasaanlama

Tanpa lama-lama kayak Aurell yang langsung dapat pacar sehabis putus (eeaa!), saya melakukan manuver yang bakal membuat jiwa raga kami capek! Motor melaju menuju Jalan Raya Sukabumi. Saya (yang kebetulan sedang berada di depan) tidak mengenal medan sama sekali ketika motor diarahkan ke Sukabumi. Saya pun tidak menyangka jika  jalanan macetnya ampun-ampunan. Begitupun dengan kondisi jalanan yang kurang bersahabat. Terlebih lawan-lawannya adalah kendaraan-kendaran gigantis, bus besar, hingga truk raksasa pengakut galon Aqua! Fiuuuhhh….

Tujuan kami sebenarnya adalah Danau Lido di KM 21. Tampaknya jarak yang bakalan ditempuh tidak terlampau jauh, namun perjuangan sekaligus capeknya menuju Lido udah kayak lihat striping berita nggak penting dari Syahrini di infotainment Indonesia.

Danau Lido sebenarnya menawarkan penginapan di Lido lakes Resort, namun karena sadar diri dengan dompet kami hanya menikmati keasrian Danau Lido dari pinggiran sambil duduk-duduk sesaat untuk selanjutnya berjibaku kembali melawan monster pembawa aqua galon!

*Lampu Kamar Wins Guest House #instagramabis*

Sesuai tujuan semula dimana motoran ke Bogor ini tidak dalam rangka  mengunjungi satu tempat tertentu namun memang sengaja untuk menikmati Bogor dengan cara yang berbeda, maka selepas dari Lido pun kami muter-muter nggak jelas sekalian nyari penginapan murah. Setelah mampir sejenak di warung steak murah sekaligus googling letak  dua penginapan murah hasil googling, yakni Papa Ho Hotel dan Guest House Wins yang dua-duanya terletak di sekitar Warung Jambu. Sayang Papa Ho Hotel penuh sehingga kami pun beralih ke Guest House Wins dan mendapat kamar seharga Rp. 150.000,00 (AC+Air Hangat+Break fast Roti Bakar).

Malam harinya pun kami tidak ada agenda khusus untuk kudu pergi dugem ke mana gitu. Kami hanya mencari makan malam dengan antri pantat di Bakso Seuseupan lalu ikutan gaul bareng di McD sambil ngenet gratis sekaligus berusaha  namatin petualangan Zarah dalam Partikel-nya Dee.  Seru juga baca kisah Zarah di kota dimana Zarah yang mengawali kisahnya. Saking nggak bisa berhentinya Partikel pun khatam malam itu juga setelah balik ke penginapan hampir jam sebelas malam.

Hari berikutnya

Sengaja bangun rada siang kami check out dari penginapan dan kembali keliling Bogor.  Tidak ada gambar saya abadikan dengan kamera karena di satu sisi saya memegang kemudi dan di sisi lain saya benar-benar ingin menikmati Bogor dari atas motor. Melihat Bogor dari mata seorang pengendara, yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan karena kunjungan ke Bogor selalu menggunakan angkutan umum bukan motor.

Mengantisipasi panas menyengat di hari sebelumnya, selesai berkeliling kami pun langsung tancap gas balik ke rumah sebelum jam dua belas siang dan kulit menjadi hitam. Seperti biasa, perjalanan balik dari suatu tempat pasti terasa lebih cepat karena medan jalan yang sudah dihafal.  Motor pun ngacir tanpa masalah berarti. Sempat melihat papan petunjuk ke Obyek Wisata Air Panas Ciseeng namun kami mengurungkan untuk mampir karena cucian sudah menumpuk.

Nggak perlu waktu lama akhirnya sekitar pukul dua belas siang kami telah sampai di sekitar Bintaro untuk ngisi perut yang cuman diganjal sarapan gratis roti bakar.

Dan, motoran Pondok Aren ke Bogor pun dinyatakan berhasil! *dikasih hadiah mobil Bentley senilai 9M! #ngarep*

*Danau Lido*

 

10 Comments

Filed under Banten, Jawa Barat, Travelogue

10 Responses to Tepos! Ke Bogor Pakai Motor

  1. sebagai Ratu Kebun Raya saya mengacungkan 4 jempol termasuk jempol kaki yg bau ini atas usaha anda bertepos ria. eh, tp gw curiga ma org yg naik motor ke ujung genteng. keqnya gw kenal deh…. coz kakek tua bangke dr bekasi itu jg ke UG naik motor :) )))

    gw turut prihatin karena lo gak bisa lunch like a sir di hotel lido lake dan menyebrangi danau lido dengan bergelantungan. mungkin kalo mau sedikit iri bisa liat foto outbound kantor gw :D
    http://ndahdien.multiply.com/photos/album/40/Outbound_RAMP_Indonesia_RAMP_Peru_RAMP_India_TLF_LIDO

  2. dansapar

    @Ndah Nununiyah: huahahaa… pamer foto, ik! *jorokin ke danau lido*

    Bukannya kakek terakhir ke UG naik mobil 6 jam ya… tp g tau sih klo dulu pernah nggembel jg make motor, lha wong nggembel nebeng aja pernah dilakuin juga ;p

  3. tac

    mas nya solonya mana? itu plat motornya AD
    *salah fokus

  4. dansapar

    @Tac: lirik motor supra fit yg di surabaya juga ah… ;p

  5. Roy

    Mantab mas bro….coba jajal ke Bali bro…nikmat…saya sudah, pake motor supra fit x….gaspol

  6. dansapar

    @Roy: Wow…. ke bali dari mana? ato keliling bali aja nih?

  7. selamat! sebentar lagi anda akan kecanduan bikepacking seperti saya :p haus akan suasana kesasar dijalanan hahaaaa :D

  8. dansapar

    @Fahmi: iyappp…terakhir bikepacking dari kuta sampe ujung karangasem pp …hahhaaa

  9. denimahardika

    ceritanya gokiiel abiss. .

  10. huahahaha

    Busyet deh … Kalo ada waktu libur wisata yg asyik kek, ini malah ngabisin waktu dan energi diatas motor .. Panas2, bau asap, mazet2 … Ngak mau ikut2an ah. Lbh enak main di water boom :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>