Selimut Debu, Menyibak Misteri Afghanistan

Salah. Seharusnya buku Selimut Debu karya Agustinus Wibowo ini sudah saya baca sejak dulu ketika desain sampul bukunya masih bergambar kuda-kuda yang ‘berselimutkan’ debu dalam sebuah pertandingan buzkashi.

Sebagai buku pertama dari penulis kelahiran Lumajang ini seharusnya dibaca lebih dulu, namun kenyataanya malah saya baca setelah selesai membaca buku keduanya, yaitu Garis Batas, yang tentu saja sangat memikat.

Dan, berangkat dari ‘sihir’ Garis Batas itulah akhirnya buku Selimut Debu yang sudah berganti desain sampul ini saya baca dan menyisakan sebuah penyesalan: mengapa tidak saya baca dari dulu, ya?

Lebih dari sekedar catatan perjalanan di negeri perang Afghanistan yang ditawarkan oleh buku Selimut Debu. Sebagai penulis, Agustinus Wibowo tidak hanya membawa hari-harinya dalam sebuah bentuk petualangan, namun juga perenungan. Kisah demi kisah seperti ditulis dari dasar hati yang dalam, dimana Agustinus Wibowo tidak hanya menggambarkan suasana kehidupan sehari-hari masyarakat Afghanistan, namun juga menyuarakan hati mereka.

Selain itu, dengan membaca Selimut Debu saya berhasil menyibak misteri dari Negeri Ranjau Afghanistan. Selama ini berita tentang Afghanistan lebih condong mengabarkan perang, taliban, bom bunuh diri, hingga teroris dimana berita-berita tersebut cukup mampu membuat memberi satu sudut pandang bagi Afghanistan, yaitu negeri perang. Di buku Selimut Debu banyak kisah lain selain perang. Agustinus Wibowo menceritakan seluruh detail perjalanannya selama di Afghanistan, pemikiran-pemikirannya sekaligus pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat setempat! Termasuk pula cerita tentang imbas perang bertahun-tahun yang melanda Afghanistan.

Seperti yang sudah saya bilang, buku Selimut Debu lebih dari sekedar catatan perjalanan!

Dan, hanya dengan membaca saja saya kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh Agustinus Wibowo yang berkeliling negeri yang sering dijejerkan dengan serangan bom bunuh diri ini. Apalagi perjalanan tersebut dilakukan seorang diri di sana. Selain itu perjalanan ini bukan sekedar perjalanan biasa. Saya mengamini apa yang ditulis Maggie Tiojakin di kata pengantar buku ini yang menganugerahi Agustinus Wibowo sebagai seorang explorer bukan traveler saja, dimana Agustinus Wibowo tidak hanya membawa mata namun juga hati, sehingga dia bisa merasa kemirisan dan sisi kemanusiaan lainnya.

Bila titel explorer saja telah disematkan tentu saja catatan perjalanan yang luar biasa pun siap untuk dibaca tanpa rasa bosan. Dan, siap-siap saja teraduk-aduk emosinya.

Benar saja, saya sangat menikmati setiap cerita yang dibawa Agustinus Wibowo. Setiap membalik buku rasanya kaki ikut melangkah, mengikuti kemana Agustinus Wibowo berpetualang, memasuki hiruk pikuknya kota Kabul, kerasnya Kandahar, sunyinya pegunungan Ghor, melintasi kota-kota kuno hingga ke tepian Amu Darya, menyaksikan jejak Patung Buddha Bamiyan, hingga menuju pelosok jauh di Pegunungan Atap dunia di Wakhan untuk melihat dunia paralel.

Menikmati setiap bab di buku Selimut Debu tidak sekedar mendapatkan khaak atau debu yang menyelimuti seluruh penjuru Afghanistan. Namun di balik khaak tersebut tersimpan cerita tentang kebanggaan akan kampung halaman, sejarah, masa lalu, impian, harapan, keberanian, cita-cita, identitas dan takdir.

Termasuk pula, saya mendapatkan cerita tentang perjuangan tanpa lelah, baik yang muncul dari penduduk lokal maupun dari sosok Agustinus Wibowo sendiri. Beberapa kali mendapatkan sial dan rintangan, namun Agustinus Wibowo tetap bersemangat untuk menyelesaikan mimpinya di Afghanistan. Misalnya, selain dirampok atau kena tipu, tentu saja adalah beratnya medan perjalanan yang ditempuh. Bayangkan saja jarak 151 km harus dilalui dalam 2 hari! Gila, bukan? Perjalanan tersebut adalah rute berat dari Garmao yang melintasi gunung-gunung gersang dan miskin untuk menuju Cheghcheran, ibukota provinsi Ghor, sebuah provinsi yang terisolasi, sekaligus provinsi termiskin di seluruh negeri miskin Afghanistan.

Selain itu saya juga mendapatkan kisah yang selama ini seperti terlupakan, yakni keramahtamahan dari penduduk lokal untuk memuliakan tamu. Mehman navazi, keramahtamahan, merupakan sebuah jalan hidup di negeri itu. Di mana ada kemurahan hati di balik selimut khaak dari masyarakatnya, yang mau mengulurkan tangan bagi musafir yang malang, meskipun dapur tak lagi mengepul. Melayani tamu dan berbagi makanan adalah kebanggaan yang tak berbanding.

Ada dua hal lagi yang membuat Selimut Debu ini menjadi buku yang istimewa selain kisah petualangannya. Pertama, tentang banyaknya kalimat-kalimat sakti yang menggetarkan jiwa. Salah satu contohnya adalah lewat Shah Panja dari Lembah Wakhan yang berkata, “Agama itu yg penting adalah insaniat-kemanusian, bagaimana kita mencintai sesama manusia.”

Termasuk pula potongan kalimat yang dijadikan tagline di sampul buku bagian depan. “Di sini semua mahal. Yang murah cuma satu: nyawa manusia.”

Kedua adalah kumpulan syair, pepatah, lagu dari Afghanistan yang muncul sebagai pembuka di setiap bab semakin menambah ‘sesuatu’ untuk buku ini. Salah satu yang membuka salah satu bab adalah syair dari Rumi berikut:

Pernahkah kau lihat ikan yg tak puas akan samudra?
Pernahkah kau lihat kekasih mendamba?
Pernahkan kau lihat citra mengelakkan pengukirnya?
Pernahkah kau lihat kata yg kehilangan maknanya?

Kau tak perlu nama
Engkaulah samudra
Aku terhanyut dalam ayunmu

Selimut Debu
Agustinus Wibowo
Gramedia Pustaka Utama
Ukuran 13,5 x 20 cm
Halaman: xiv, 461
ISBN: 978-979-22-7463-9
Cetakan ketiga: November 2011

Editor: Hetih Rusli
Co-editor: Prisca Delima
Foto sampul dan isi: Agustinus Wibowo
Desain Sampul: Marcel A.W.
Peta dan Layout: Ryan Pradana
Desain ornamen cover: Farahnaz Hashim

2 Comments

Filed under Review Buku

2 Responses to Selimut Debu, Menyibak Misteri Afghanistan

  1. Kirain aku yg salah baca judul , soalnya bukuku gambarnya kuda *_*

  2. dansapar

    @@Dita: iya cetakan yg awal2 gambarnya kuda ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>