Lombok: Desa SADE & Desa Sukarara

Tempat terakhir yang kami kunjungi selama trip Lombok adalah mampir ke Kampung Tradisional Suku Sasak di Desa Sade, Rembitan dan pusat kerajinan tenun khas lombok di Desa Sukarara. Untuk menuju dua tempat tersebut saya dan teman-teman sengaja mengambil hari ketika kami balik dari Kuta menuju Mataram karena memang melewati dua kawasan tersebut.

@DESA SADE

Sade adalah kampung tradisional suku sasak yang masih bertahan sampai sekarang. Kampung berada di pinggir jalan raya yang menghubungan antara Mataram dengan kawasan di selatan Lombok (termasuk Kuta), sehingga tidak lengkap rasanya jika tidak singgah sejenak.

Memasuki Kampung Sade, tentu saja pengunjung akan dibawa ke dalam suasana desa yang tradisional dengan rumah-rumah sederhana dengan atap rumbia dengan berbagai model, termasuk model khas sasak. Di kampung yang dihuni 150 KK ini terdapat sekitar 400 jiwa yang masih mempunyai hubungan darah karena terdapat pernikahan antar sepupu.

Rumah asli suku sasak sendiri hanya terdiri dari dua ruangan. Ruangan pertama di bagian dalam diperuntukkan untuk anggota keluarga wanita, yang didalamnya merangkap sebagai dapur. Sedangkan ruang lainnya di bagian luar diperuntukkan untuk anggota keluarga lainnya. Keunikan dari rumah asli ini adalah lantainya yang dipel dengan kotoran kerbau agar mengkilat dan licin. Mo coba ngepel? Hihhihi.

Suasana kampung sendiri terdiri gang-gang sempit yang bertingkat sehingga salah satu cara untuk menuju satu rumah ke rumah lainnya adalah dengan berjalan kaki. Saat berkunjung, beberapa rumah dari penduduk tampak menjual berbagai macam kerajinan khas lombok, seperti gelang hingga kain tenun. Namun karena saya kurang tertarik untuk membeli, saya pun urung untuk bertanya berapa harganya, daripada stress mikirin mahalnya. Haha!

@DESA SUKARARE

Salah satu pusat kerajinan khas lombok terdapat di Sukarare. Di sini merupakan tempat kerajinan tenun khas lombok. Sesaat sampai di halaman salah satu rumah merangkap toko merangkap workshop, kami langsung disambut dengan ibu-ibu yang sibuk menenun. Pengunjung boleh mencoba lho!

Lalu, ketika kami memasuki gerai tenunnya, kain-kain warna warni khas lombok nampak begitu menggoda. Namun saat ditanya harganya, saya mendadak sakit kepala sebelah. Cukup mahal! Misal, syal selebar kurang dari 20 cm dengan panjang hampir 1m dihargai lima puluh ribu rupiah. Saat itu, saya merasa bahwa itu adalah harga yang wajar karena proses pembuatannya yang rumit, namun ketika saya dan teman-teman mampir di sebuah toko souvenir yang juga menjual barang yang sama, ternyata harganya Rp. 20.000,00.

Namun meski saya urung untuk membeli kain tenun atau sekedar syal atau sarung, ada alternatif lain untuk sekedar gaya-gayaan dengan baju daerah lombok,yaitu dengan menyewanya lantas berfoto-foto narsis sepuasnya! Dua teman saya mencoba menyewa baju adat ini dengan tarif 20rb/baju.

@DESA WISATA LAINNYA.

Berkunjung ke Lombok tidak melulu diving atau snorkeling. Banyak budaya asli daerah yang siap untuk dilihat dan dikunjungi. Selain itu pusat-puast kerajinan bisa juga dijadikan alternatif lainnya. Selain kerajinan tenun, Lombok juga dikenal sebagai daerah penghasil mutiara dan tembikar.

12 Comments

Filed under Kain Indonesia, NTB, Travelogue

12 Responses to Lombok: Desa SADE & Desa Sukarara

  1. 1 hal yg mengherankan buat gw adalah….
    dgn kain tenun sbanyak itu, dimana mreka menenunnya??
    benarkah kain tenun itu hasil tenunan mereka sendiri??
    lalu mengapa qt tidak diajak melihat aktivitas menenun???
    #LaKersInvestigasi :P

  2. @ ndah: dasar nyinyir… hahaha…tp di toko grosir kaos itu gw nemu kain tenun dengan label thailand sih, ndah
    ;)

  3. I’ve read some good stuff here. Definitely worth bookmarking for revisiting.

  4. nanya lagi, xp.
    anda transportasi kesana gimana dan darimana, masih kah naek bemo?
    ato kalo kesana harus pake travel agent?
    thanks berat lagi yah

  5. dansapar

    @@ Cathryn: thank you ….

    @@ apithea: krn kmrin make mobil sewaan dr mataram jd utk rute pasnya kurang tau, tapi angkot yg lewat sade ada kok, mgkin jurusan mataram – kuta (krn sade ini ada di pinggir jalan). nah klo sukarare itu saya krg tau krn masuk2 tempatnya. tapi klo mo beli oleh2 sih di deket mataram mall ada pusat oleh2 khas lombok juga ato ke cakaranegara aja.

  6. o gt yah, paling kalo pengen mampir turun angkot aja kali yah, btw yang lupa ditanyain. Sinyal operator selular disana okey semua gak? kalo gak musti jaga ganti yang bisa *untuk sementara*.
    terus ada laundry ga sih? kalo musti bawa baju bwt seminggu kayaknya lumayan berat juga nih.
    thanks again yah

  7. dansapar

    @@apithea:

    - utk sinyal sih yg plg aman xl, full, kec ya pas di ujung2 ‘dunia’ kayak di pantai2 selatan lombok yang memang agak jauh nembus2 bukit, sdgkn utk indosat (yg aq pake) bener2 kudu sabar utk nyari sinyal, hahahhaa

    - utk laundry di senggigi, mataram atau kota2 sih pasti ada, klo enggak ya nyuci aja di hotel, ngirit kan ;)

  8. dansapar

    @@ apithea:

    oh ya, kmrin aq jg seminggu tapi gak pake laundry ;)

  9. kebetulan kalo gitu, gak perlu ganti nomer xp.
    Thanx a lot yah bwt panduannya XD

  10. Sukarare artinya rela miskin. Dengan nama itu, nenek moyang mereka meninggalkan jejak kerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Salah satunya, agar bisa memiliki kain/sarung, harus mereka menenun. Perempuanpun wajib hukumnya bisa menenun. Sedangkan kaum laki kerja keras disawah atau ladang untuk bertani. Kerja keras itu, ternyata membuahkan hasil. Generasi dari Desa Sukarare, umumnya pekerja ulet dan pantang menyerah. Termasuk mereka yang menempuh pendidikan dan berwirausaha.

  11. dansapar

    @Mas Rudi: terima kasih sekali atas tambahan informasinya, mas.

  12. thans Dansapar yang udah bahas wisatanya di lombok, semoga di baca banyak orang dan semakin banyak yang wisata di lombok ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>